Setiap akhir semester ada mulu pertanyaan seperti ini, terkesan sangat tidak adil, Nilai siswa rendah, “gurunya gak bisa ngajar yah? Metode ngajarnya gimana sih? Ngajarnya gimana sih, Bu. Dikellas ngapain aja sih, Pak”. Miris, apakah guru yang harus disalahkan? Hingga sampai pada konsep, nilai rendah sama dengan guru tidak bisa bekerja dengan baik. Saya pahami dan dalami betul cara ngajar saya, nuansa dikelas, bagaimana suasana kelas saya. Antusiasnya para siswa, diskusi hidup, interaktif, anak-anak ingin mendapatkan sesuatu yang lebih daripada hanya Mata Pelajaran, tanya jawab juga berjalan, hingga assessmen dan evaluasi harian, juga berjalan dengan baik, lalu kenapa?
Kemudian saya coba cari tahu, ternyata masalahnya muncul dari sini, yaitu materi yang tidak pernah direvisi , diulang dan tidak lagi dipelajari dirumah, terlebih materi awal dan materi tengah, hingga pada akhirnya berlalu begitu saja dan Terlupakan. Ini bukan kemalasan, tapi bisa jadi pola belajar yang belum terbentuk. Saya meyakini bahwa ketika belajar tanpa adanya pengulangan hanya akan menjadi memori jangka pendek, tanpa latihan ulang, bahkan materi yang dulu sempat dipahami, akan lupa dan holang begitu saja saat ujian. Guru harus selalu melakukan evaluasi, mengamati dan mendalami siapa yang ia ajar, namun nampaknya akan sangat tida adil jika semua kesalahan diarahkan kepada metode mengajar, san bahkan tanpa melihat usaha belajar si anak diluar jam pelajaran atau diluar kelas.
Semua lingkungan seharusnya bisa bekerja sama dan berkontribusi, dalam hal ini Guru sebagai penyaji materi dan pembimbing, lalu siswa mengulang-ulang materi dan menguatkannya, Orang tua harus mendukung penuh kebiasaan belajarnya, dan Sekolah harus disiplin dalam membangun sistem yang konsisten.
Pada dasarnya nilai yang rendah itu tukang berarti gagal dalam mengajar, melainkan tanda bahwa belajar belum menjadi kebiasaan. Karena pendidikan bukanlah soal tentang salah siapa? Tapi siapa yang mau menghargai proses dan berproses bersama. Karena nilai itu Cermin, bukan alat untuk menyalahkan, apalagi menyalahkan guru.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar